Cukup kerap saya mendapat pertanyaan bertubi dari orang-orang yang kebetulan tahu bahwa saya mencari nafkah di media cetak. "Saya ingin belajar menulis. Bagaimana cara agar saya menjadi penulis yang baik di kemudian hari? Apakah saya harus banyak membaca? Teori apa yang mula-mula harus saya pelajari?"
Biasanya saya diam sejenak, tak langsung menjawab, karena menunggu datangnya pertanyaan lanjutan. Jika tak ada, barulah saya berujar: "Penulis bukan kuli panggul yang bisa segera beraksi begitu truk berisi beras datang. Penulis adalah orang yang membutuhkan stimulus untuk menulis. Dia bekerja dengan mengoptimalkan letupan imajinasi, kreativitas, yang semuanya butuh olah pikir. Tapi begitu dia siap untuk menulis, dia harus segera menulis. Mengapa harus? Karena menunda menulis itu "dosa". Ketika letupan-letupan di otak menggelegak seperti letupan magma, dan nyaris tumpah keluar kepala, Anda harus menampungnya di atas kertas, di komputer, di internet tablet, maupun di smartphone.
Artinya, jangan dulu berpikir ingin menjadi penulis yang baik. Tapi menulislah dulu apa yang ingin Anda tulis, baik atau buruk. Sebelum menjadi penulis yang baik, tentu Anda harus siap menjadi penulis yang buruk dulu. Letupan imajinasi dan kreativitas tak datang setiap saat, meski ia dapat dipicu. Untuk mendatangkan stimulus itu, silakan banyak membaca, silakan banyak mendengar, silakan banyak menonton. Jadi, dari sekian banyak pertanyaan di muka, hanya satu kepastian yang bisa saya ulang dan ulang katakan: "Jika Anda ingin menjadi penulis, menulislah dulu apa pun yang ingin Anda tulis. Sepanjang dan sependek apa pun dia, serta seburuk apa pun rupa tulisan itu."
Begitulah awalnya. Teori bisa dipelajari, tapi naluri menulis harus muncul dari dalam diri. Jika naluri itu tak ada atau dikalahkan oleh kemalasan, berarti naluri Anda sudah terikat pada bakat dan kemampuan yang lain. Jangan memaksa diri, hanya lantaran iri pada bakat dan kemakmuran yang dimiliki Gunawan Mohamad atau Mochtar Lubis.
Sampai jumpa di tips menulis berikutnya.
Pada Mulanya, Mulailah Dengan Apa Yang Ada
Subscribe to:
Posts (Atom)